Rabu, 09 Oktober 2013

Teruntuk Kamu


Teruntuk kamu;
Si pemilik senyum malaikat di negeri dongeng


Baru saja aku menemui kebetulan. Atau seperti yang dikatakan manusia sebelum aku dengan klausa “garis tangan Tuhan”. Tetapi lebih baik aku menyebutnya dengan kebetulan, bukan? Agar tedengar penasaran orang dibuatnya. Baiklah. Kebetulan menyenangkan, menurutku. Aku bertemu dengan tokoh utama pada masa lalu. Pada jalan cinta yang kandas. Dan terbuang. Baik, baik, jangan dulu merasa jemu dengan apa yang akan aku ceritakan. Ini bukan cerita biasa tentang masa lalu dan patah hati seperti dikeluhkan banyak muda-mudi di akun sosial mereka. Ini cerita tentang seseorang yang pergi dan kembali lalu pergi dan tidak pernah kembali lagi.

Aku dan Dia pernah mengalami satu fase menyenangkan. Bersemuka yang seperti buah apel. Aku dan Dia menyukai musik. Lagu-lagu lama pun telah dibabat habis olehku dan dia. Menyenangkan mendengarkan semangatnya yang menyala saat dia menceritakan band papan atas favoritnya, dengan vokalis John Lennon yang telah memisahkan diri. Aku mendengarkan seksama. Terkagum juga. Jam-jam berlalu belum jengah juga aku.

Kita adalah sekian kebetulan yang tidak diciptakan untuk bersama. Aku jelaskan lagi itu.

Maka dari yang kita lalui, dia yang memutuskan untuk pergi. Dengan alasan aku terlalu angkuh atau entahlah. Aku tidak ingat. Yang jelas dia yang ingin pergi, tidak ingin kembali lagi. Dan aku hanya mengangguk, pasrah. Hidupku waktu itu seperti sebongkah batu. Sepi. Bayangkan saja dengan terbiasa mendengar celoteh lucunya dan tiba-tiba dihadapkan kenyataan bahwa ia ingin pergi. Tanpa aku cegah yang mungkin dengan kata ‘jangan’ akan membuatku berlari menuju peluknya. Waktu berlalu dan dia datang lagi dengan berjuta penyesalan. Memintaku untuk memaafkannya dan mengizinkannya singgah disampingku lagi. Aku membuka pintu. Masih seperti dulu, waktu terasa menyenangkan saat aku bersama dia, si pemilik senyum malaikat di negeri dongeng.

Jika kau bertanya sampai mana jalan cerita ini akan berujung, mungkin nanti. Setalah klimaks. Atau akan kubuat kau penasaran lagi. Terka saja dahulu. Aku tidak akan membuatmu penasaran. Tetapi mungkin akan membuatmu bertanya-tanya. Tenang, akan aku lanjutkan.

Si pemilik senyum malaikan di negeri dongeng itu menceritakanku satu kisah. Tentang Adam dan Hawa. Tentang Hawa yang tercipta dari tulang rusuk Adam. Tentang kisah cinta mereka yang membuat iri manusia-manusia di muka bumi. Tentang mereka yang sempat terpisah dan bersatu lagi di bumi. Dan tentang-tentang yang lainnya. Yang aku tanggapi dengan senyuman dan sesekali anggukan.
Sang Waktu murka, diputarlah jarum jam ke arah kanan secepat mungkin. Agar waktuku sedikit bersamanya. Mungkin Sang Waktu telah kesal. Mencemburui kita yang dengan mudahnya bertemu. Tertawa. Sementara ia sendiri tidak dapat menghentikan jarum-jarum jam untuk menghentikan satu momen spesial dan mengabadikan selamanya.
Dia adalah yang paling sulit dimengerti olehku. Oleh fikiran dan hatiku. Inginnya yang dulu tinggal bersamaku lalu inginnya lagi yang pergi dan inginnya yang memohon untuk dapat kembali. Terlalu banyak keinginan yang hanya sebatas ingin dan tidak merealisasikan menjadi harap, pengorbanan, dan terwujud. Ketika kata ‘ingin’ berhamburan, maka habislah keinginan itu. Seperti sekarang. Seperti yang sudah pernah terjadi. Dia yang ingin untuk pergi lagi. Pergi dan tidak kembali lagi. Pergi untuk kebetulan pada hari ini. Hari dimana masing-masing dari kita berjabat tangan untuk melepas rindu. Tersenyum, lalu memisahkan diri lagi.

Memuakkan, bukan? Ego adalah musuh terbesarku, atau kau juga mungkin? Ia adalah musuh yang paling sulit ditundukkan. Jika ia dapat tunduk, maka merdekalah engkau terlepas dari penjajahan dan perang terbesar antara ego dan perasaan. Lalu menyadari dari awal bahwa ada yang akan sia-sia. Jika maksudmu ujung pahit atau manis, tentu saja bukan. Tetapi, tidak mempunyai ujung. Meskipun ada bahagia saat melepas rindu pada pertemuan terakhir tetapi bukan yang paling akhir kita.


Purwokerto, Oktober 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tinggalkan jejak, agar aku dapat selalu mengingatmu.