Teruntuk kamu;
Si pemilik senyum malaikat di negeri dongeng
Baru saja aku
menemui kebetulan. Atau seperti yang dikatakan manusia sebelum aku dengan
klausa “garis tangan Tuhan”. Tetapi lebih baik aku menyebutnya dengan
kebetulan, bukan? Agar tedengar penasaran orang dibuatnya. Baiklah. Kebetulan
menyenangkan, menurutku. Aku bertemu dengan tokoh utama pada masa lalu. Pada
jalan cinta yang kandas. Dan terbuang. Baik, baik, jangan dulu merasa jemu
dengan apa yang akan aku ceritakan. Ini bukan cerita biasa tentang masa lalu
dan patah hati seperti dikeluhkan banyak muda-mudi di akun sosial mereka. Ini
cerita tentang seseorang yang pergi dan kembali lalu pergi dan tidak pernah
kembali lagi.
Aku dan Dia
pernah mengalami satu fase menyenangkan. Bersemuka yang seperti buah apel. Aku
dan Dia menyukai musik. Lagu-lagu lama pun telah dibabat habis olehku dan dia.
Menyenangkan mendengarkan semangatnya yang menyala saat dia menceritakan band
papan atas favoritnya, dengan vokalis John Lennon yang telah memisahkan diri.
Aku mendengarkan seksama. Terkagum juga. Jam-jam berlalu belum jengah juga aku.
Kita adalah
sekian kebetulan yang tidak diciptakan untuk bersama. Aku jelaskan lagi itu.
Maka dari yang
kita lalui, dia yang memutuskan untuk pergi. Dengan alasan aku terlalu angkuh
atau entahlah. Aku tidak ingat. Yang jelas dia yang ingin pergi, tidak ingin
kembali lagi. Dan aku hanya mengangguk, pasrah. Hidupku waktu itu seperti
sebongkah batu. Sepi. Bayangkan saja dengan terbiasa mendengar celoteh lucunya
dan tiba-tiba dihadapkan kenyataan bahwa ia ingin pergi. Tanpa aku cegah yang
mungkin dengan kata ‘jangan’ akan membuatku berlari menuju peluknya. Waktu
berlalu dan dia datang lagi dengan berjuta penyesalan. Memintaku untuk
memaafkannya dan mengizinkannya singgah disampingku lagi. Aku membuka pintu.
Masih seperti dulu, waktu terasa menyenangkan saat aku bersama dia, si pemilik
senyum malaikat di negeri dongeng.
Jika kau
bertanya sampai mana jalan cerita ini akan berujung, mungkin nanti. Setalah
klimaks. Atau akan kubuat kau penasaran lagi. Terka saja dahulu. Aku tidak akan
membuatmu penasaran. Tetapi mungkin akan membuatmu bertanya-tanya. Tenang, akan
aku lanjutkan.
Si pemilik
senyum malaikan di negeri dongeng itu menceritakanku satu kisah. Tentang Adam
dan Hawa. Tentang Hawa yang tercipta dari tulang rusuk Adam. Tentang kisah
cinta mereka yang membuat iri manusia-manusia di muka bumi. Tentang mereka yang
sempat terpisah dan bersatu lagi di bumi. Dan tentang-tentang yang lainnya.
Yang aku tanggapi dengan senyuman dan sesekali anggukan.
Sang Waktu
murka, diputarlah jarum jam ke arah kanan secepat mungkin. Agar waktuku sedikit
bersamanya. Mungkin Sang Waktu telah kesal. Mencemburui kita yang dengan
mudahnya bertemu. Tertawa. Sementara ia sendiri tidak dapat menghentikan
jarum-jarum jam untuk menghentikan satu momen spesial dan mengabadikan
selamanya.
Dia adalah
yang paling sulit dimengerti olehku. Oleh fikiran dan hatiku. Inginnya yang
dulu tinggal bersamaku lalu inginnya lagi yang pergi dan inginnya yang memohon
untuk dapat kembali. Terlalu banyak keinginan yang hanya sebatas ingin dan
tidak merealisasikan menjadi harap, pengorbanan, dan terwujud. Ketika kata
‘ingin’ berhamburan, maka habislah keinginan itu. Seperti sekarang. Seperti
yang sudah pernah terjadi. Dia yang ingin untuk pergi lagi. Pergi dan tidak
kembali lagi. Pergi untuk kebetulan pada hari ini. Hari dimana masing-masing
dari kita berjabat tangan untuk melepas rindu. Tersenyum, lalu memisahkan diri
lagi.
Memuakkan,
bukan? Ego adalah musuh terbesarku, atau kau juga mungkin? Ia adalah musuh yang
paling sulit ditundukkan. Jika ia dapat tunduk, maka merdekalah engkau terlepas
dari penjajahan dan perang terbesar antara ego dan perasaan. Lalu menyadari
dari awal bahwa ada yang akan sia-sia. Jika maksudmu ujung pahit atau manis,
tentu saja bukan. Tetapi, tidak mempunyai ujung. Meskipun ada bahagia saat
melepas rindu pada pertemuan terakhir tetapi bukan yang paling akhir kita.
Purwokerto,
Oktober 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tinggalkan jejak, agar aku dapat selalu mengingatmu.