Ada lelah yang
menunggu dan meronta minta dikasihani. Diberi sedikit rasa melas. Ia berusaha
keras berteriak. Tapi apa dayanya, ada hati berada di puncak tertinggi sebuah
rasa. Lelah hinggap tak terasa. Padahal ia ada, hanya saja ia kalah. Menjadi
diam dan menangis tersedu. Namun masih ada juga senyum, ia berpura-pura berdiri
tegak disana. Di wajah manisnya yang
jikalau saja orang lebih memperhatikan air mukanya, ia merintih.
Bagaiamana
dengan sebuah drama percintaan komedi sekaligus menyayat hati? Dimana pemeran
utamanya adalah aku dan kamu? Mungkin pernonton sudah gemas dibuatnya. Ada aku
yang diam saja ketika tak diberi rasa. Dan mungkin penonton akan tertawa atau
menyumpah-serapah perbuatan konyolku ini. Berjuang untuk yang tidak ingin
diperjuangkan?
Atau aku saja
yang menjadi seorang sutradara dan kau yang menjadi bagian utama dari sebuah
drama. Aku jungkir balikkan peranmu, menjadi sampah yang terinjak-injak lantas
menjadi seorang pangeran dengan banyak selir. Atau menjadi seorang pangeran
yang diperebutkan lalu menjadi tak berdaya karena terjebak permainannya
sendiri. Kau mau piih yang mana?
Tidak, tidak.
Aku akan mengambil peran pembantu disini. Dimana tugasku membantu pemeran
utama; kamu. Kamu yang mengejar cinta seorang Puteri. Dan aku membantumu
melesat kepadanya. Jika kamu tersandung, aku membantumu bangkit. Atau mungkin
jika kamu terjerembab jatuh. Aku yang akan membawamu terbang. Tenang saja, aku
tak akan minta apa-apa. Bukankah begitu tugas seorang pemeran pembantu? Mulia
sekali, bukan?
Baiklah, aku
ingin istirahat barang sejenak. Melatih bibir agar selalu tersenyum.
Bagaimanapun, peran pembantu tetap saja berperan kan? Entah dianggap atau
tidak. Tugasku hanya begitu.
Purwokerto, Desember 2013