Rabu, 27 November 2013

Tak Terlupa


Tak Terlupa


Semua ini berawal dari pelukanmu yang hangat itu.

Betapa aku tak ingin pergi selamanya dari nyamannya sebuah dekapan darimu. Setelah kau berhasil membuatku tergila-gila pada setiap udara yang aku hirup, desir nadi yang semakin bergejolak dan degup jantung yang tak mempunyai ritme.
Mungkin benar, aku adalah perindu paling egois. Aku hanya tidak tahu harus bagaimana menahan rindu yang terkadang tumpah menjadi air mata. Jika kamu ingin tahu—rindu teramat menyiksaku. Dengan keegoisanku ini, aku ingin kamu merindukanku juga. Hanya aku. Satu-satunya.

Aku pernah bercerita pada hujan, bahwa aku menginginimu setengah gila. Namun aku tahu pada kenyataan yang hampir tidak bersebelahan dengan mimpiku. Aku menangis. Hujan memberi isyarat padaku melalui desir angin yang berhembus melalui kulitku. Membisikkan isyarat paling lembut. Ia bilang bahwa semuanya pasti bermuara di samudra tak berbatas. Aku tersenyum miris.

Jika memang semua yang aku lakukan akan bermuara di samudra tak berbatas itu, aku masih mempertanyakan apakah yang dimaksud dengan samudra tak berbatas?

Akhir yang sempurna bersamamu?

Atau

Akhir yang sempurna tanpamu?



Purwokerto, November 2013

Jumat, 22 November 2013

Untaian Pengantar Isyarat


Untaian Pengantar Isyarat;
-

Sudah, aku cukup butuh kamu saja. Menunggumu berbisik “aku sayang kamu” Demi Tuhan. Hanya itu saja yang aku inginkan.
Aku pernah tergila-gila padamu, mencintaimu walau hanya dalam sebatas pandang. Dahulu. Karena sesudahnya ada kamu yang tergila-gila dengan seorang wanita. Aku tahu betul, kamu mencintainya hingga hampir gila. Korbankan segalanya. Dan pada akhirnya, kamu juga yang memutuskan dia, sepihak. Aku hampir nelangsa.
Aku tahu betapa ngilu hati yang telah mencintai hingga batas kewajaran diri namun tak pernah kunjung terbalas. Seperti ini, sekarang.

Aku mencintaimu tapa perlu kamu tanyakan alasannya. Meskipun sekarang kamu tidak menyadari. Aku masih percaya pada kekuatan cinta. Lihat saja kedua mataku tanpa perlu kamu bertanya. Dekap erat saja tubuhku. Dan betapa air mata tumpah diantara pelukan kita. Aku mencintaimu tanpa perlu kamu tahu. Aku cukup bahagia dengan kebersamaanmu tanpa ada jeda. Tanpa perlu takut untuk kehilangan; karena kita tak saling memiliki. Aku bahagia hanya dengan memandangmu. Mendengar tawa renyahmu atau langkah kakimu yang selalu aku harapkan untuk datang menghampiriku, sejauh apapun aku.

Maka, kamu adalah mimpi sekaligus cita-citaku. Merajut harapan agar terwujud semua. Tanpa jeda, aku ingin selalu bersamamu.


Purwokerto, November 2013

Bukan Siapa-Siapa


Bukan Siapa-Siapa


Bagaimana agar aku mampu berhenti merindukanmu? Padahal aku tidak ingin jatuh cinta lagi dengan seseorang selain kamu.

Kita seperti dua orang yang ingin bertemu namun rasa malu menjadi penghalang aku dan kamu. Kita sama-sama ragu untuk saling menyapa, bersemuka, atau bahkan mengajak bicara. Aku manusia yang tahu diri, aku bukanlah bidadari; tidak cantik. Begitu kata orang. Sehingga aku tidak bisa menggapai cita-cita hatiku untuk memilikimu, seutuhnya. Karena kamu, seorang sepertimu tidak mungkin jatuh hati kepadaku. Yang aku mampu hanyalah memendam perasaan, menggali lubang sendiri, dan menguburnya rapat-rapat. Bukan, bukan karena aku tidak cinta. Namun karena aku sadar, aku bukan siapa-siapa.

Aku orang dungu, kalau kamu tahu. Aku tidak tahu bagaimana membisikkan kata cinta yang telah lama ada. Aku berjuang, tapi segera kusudahi. Berjuang untuk apa?


Aku hanya tahu; kamu mencintai orang lain.



Purwokerto, November 2013

Telah Aku Usaikan Rindu Untukmu Semalam


Telah Aku Usaikan Rindu Untukmu Semalam


Terkadang, aku tidak mengerti bagaimana cara melupakanmu jika setiap udara yang aku hembus adalah kamu. Yang aku ingin lakukan adalah melupakanmu tanpa membuatku mati. Bagaimana? Aku belum mampu, sepertinya.

Aku diam karena sebenarnya aku tidak ingin terlalu jauh mencintaimu, Sayang. Sebagaimana yang ingin aku lakukan. Maka berdiam diantara kerumunan orang membuatku merasa sedikit baik, tanpa perlu kamu bertanya “Apakah kamu baik-baik saja?”

Untuk bahagiamu, apapun itu. Akan aku lakukan. Memberi yang kamu butuhkan—entah itu cinta, sayang dan kasih. Mengorbankan yang aku milikki—waktu, air mata.

Rindu memojokkan diriku di ruangan 2x3 ini. Membuatku tersedak. Aku merasa sepi. Dan dingin ini menyeruak masuk melalui celah pori-pori di kulitku dan membuatku merasa ngilu. Aku sangat merindukanmu.

Usahaku sia-sia. Sedari dulu, aku tak pernah berhasil menggapaimu. Entah apa yang salah; atau semesta tak menghendaki aku bersamamu?

Selanjutnya, yang akan aku lakukan adalah merelakanmu, melepaskanmu. Karena yang terpenting dari semua rasa yang aku milikki adalah bahagiamu. Rindu akan aku usaikan.



Purwokerto, November 2013

Rabu, 13 November 2013

Soliloquy Rindu


Soliloquy Rindu;
dibawah derasnya hujan, aku merindu

Aku ingin memberitahumu terkadang diamku ini berkata-kata. Ia membisikkan sesuatu lewat alam semesta; “Jangan Menyerah”. Mendekapmu saja aku tak bisa, lantas bagaimana caraku untuk mempertahankan?
Terkadang, ia membisikkan sesuatu pula melalui riuh suara yang membuatku terpaku di tempat; “Apa yang kau perjuangkan? Ini semua sia-sia”. Ia membuatku tak bisa bergerak diantara kerumunan orang yang menertawai tangisku; atau sengaja membicarakan masalahku.
Aku rindu, tak perlu kamu tanya lagi. Kamu sendiri mungkin sudah tau. Namun ternyata hati tak sejalan dengan pikiran. Sekali lagi, aku masih berpegang teguh pada jalan yang telah ditakdirkan kepadaku. Mungkin benar, untuk saat ini diam adalah salah satu jalan terbaik mengatasi rindu yang kurangajar tanpa permisi memecah keheningan di singgahsana hati dan membuatnya meronta karena rindu yang tak tertahankan. Rindu membuatku ingin berlari menuju pelukmu yang kata orang hangat dan nyaman itu; sesekali aku pernah mendengar begitu. Tidur sepuasnya dalam bola matamu. Menetap disana. Dan betapa aku tak ingin pergi.
“Ini hanyalah masalah waktu” begitu hatiku berkata.
Lalu, seberapa lama aku harus menunggu untuk sebuah kenyamanan yang aku rasakan bersama rasa sakitku? Dan kapan aku dapat merebahkan pelukku dalam pelukmu untuk menuntaskan rindu yang selama ini mengendap dan membuatnya sulis dipecahkan?
Adakah waktu? Aku harap.


Purwokerto, November 2014