Tak Terlupa
Semua ini
berawal dari pelukanmu yang hangat itu.
Betapa aku tak
ingin pergi selamanya dari nyamannya sebuah dekapan darimu. Setelah kau
berhasil membuatku tergila-gila pada setiap udara yang aku hirup, desir nadi
yang semakin bergejolak dan degup jantung yang tak mempunyai ritme.
Mungkin benar,
aku adalah perindu paling egois. Aku hanya tidak tahu harus bagaimana menahan
rindu yang terkadang tumpah menjadi air mata. Jika kamu ingin tahu—rindu
teramat menyiksaku. Dengan keegoisanku ini, aku ingin kamu merindukanku juga.
Hanya aku. Satu-satunya.
Aku pernah
bercerita pada hujan, bahwa aku menginginimu setengah gila. Namun aku tahu pada
kenyataan yang hampir tidak bersebelahan dengan mimpiku. Aku menangis. Hujan
memberi isyarat padaku melalui desir angin yang berhembus melalui kulitku.
Membisikkan isyarat paling lembut. Ia bilang bahwa semuanya pasti bermuara di
samudra tak berbatas. Aku tersenyum miris.
Jika memang
semua yang aku lakukan akan bermuara di samudra tak berbatas itu, aku masih mempertanyakan
apakah yang dimaksud dengan samudra tak berbatas?
Akhir yang
sempurna bersamamu?
Atau
Akhir yang
sempurna tanpamu?
Purwokerto, November 2013