5 tahun sudah sejak hari kelulusan Rheanita dari SMA
Sinar Gemilang, sekarang siapa yang tidak tahu wanita yang menjabat mengadi
General Manager di perusahaan asing ini. Wanita yang tak kenal kata menyerah
dan berambisi.
Rhea berjalan menuju taksi yang telah dipesan dari hotel
tempat ia menginap untuk mendatangi reuni yang diadakan alumnus SMA Sinar
Gemilang khususnya kelas 12-B, kelas Rhea. Ia sedang berada di kampung
halamannya ketika reuni diadakan. Pekerjaan yang padat tidak membolehkan Rhea
untuk meninggalkan Jakarta dan seluk-beluknya. Rhea sampai di cafe tempat
mereka berkumpul. Ia segera memasukki cafe itu.
Degg!!
Hati Rhea mulai berdebar lagi, debaran yang sama selama 8
tahun terakhir. Debaran yang tak pernah bisa Rhea kendalikan ketika melihat Doni.
Lelaki yang mampu meluluhlantakkan kehidupan Rhea, mengacuhkan Rhea sehingga
Rhea kehilangan separuh semangatnya. Doni, Rhea masih cinta.
“hai! Ini deh GM kita yang super sibuk ini” Nita menyapa
lalu memeluk Rhea
“Bisa aja lo, Nit. Apa kabar?” Rhea tersenyum ke arah
Nita sembari matanya yang sesekali melihat ke arah Doni
“baik deh, yuk duduk” ajak Nita. Rhea segera melangkah
mengikuti Nita lalu disambut senang oleh teman-temannya. Doni tak terkecuali.
“Hai, Rhe! Long
time no see. How’s your life?” Masih dengan senyumnya yang bergeming disana
“Hai, Don. As you
see. Kamu gimana?” Rhea menjawab kikuk
“I’m pretty good.”
Jawab Doni. Setelah itu Rhea dan teman-temannya mulai berbasa-basi, memang Rhea
sangat rindu dengan teman kelasnya ini.
“Nit, gue mau tanya” ujar Doni berjalan menghampiri Nita
ketika ia melihat Nita mengambil minuman
“eh, Don. Kenapa?” Nita yang bingung hanya memandang Doni
penuh tanya
“lo kan deket sama Rhea, is she have already married?” Tanya Doni hati-hati
“lo tuh ya” Nita tertawa lirih
“gimana, Nit?” tanya Doni lagi ingin tahu
“Belum, kenapa? Lo naksir ya? Gantian deh sekarang lo
yang suka” Rhea tersenyum sambil menepuk lengan Doni
“Bisa aja lo, Nit. Gue duluan ya. Thanks before” Jawab Doni lalu pergi meninggalkan Nita yang
ditanggapi Nita dengan hanya anggukan kepalanya.
Waktu menunjukkan pukul sebelas malam ketika Rhea pamit
dengan teman-temannya. Rhea sebenarnya belum berkemas untuk pulang kembali ke
Jakarta esok siangnya. Ia sedang menunggu taksi di depan cafe ketika sebuah
mobil berhenti persis didepannya.
“nggak baik nunggu sendirian malem-malem. Yuk bareng?”
Tawar sang pemilik mobil itu ketika membuka kaca mobilnya. Doni.
“eh, nggak usah Don. Aku nunggu taksi aja” ujar Rhea
salah tingkah.
“aku maksa deh malem ini. Masa aku tega ninggalin
bidadari tengah malem begini?” Doni tersenyum. Seketika Rhea tak kuasa
tersenyum juga dan memasuki mobil.
“jadi, kamu nginep dimana, Rhe?” Tanya Doni disela-sela
keheningannya
“aku check-in
di Haze Hotel” jawab Rhea
“oh iya. Kamu kapan balik?” tanya Doni memandang kearah
Rhea.
“besok siang mungkin, Don” ujar Rhea
“kok cepetan sih?” tanya Doni lagi
“Kerjaan nggak ngijinin aku santai-santai terus Don. Kamu
masih kerja di Event Organizer? Aku
denger cabang baru yang di Singapore itu kamu yang pegang?” Rhea bertanya
sambil melihat kearah Doni
“Ya gitu deh. Cape bolak-balik terus.” Jawab Doni singkat
lalu keheningan terjadi lagi diantara mereka
“Rhe?” Doni memanggil Rhea
“ya?” Jawab Rhea
“aku nggak mau ngelewatin malem ini tanpa kamu. Aku
kangen” Ujar Doni yang memandang kearah Rhea.
“maksudnya?” Rhea yang gugup hanya memandang Doni penuh
tanya. Tak sadar mobilnya telah sampai di basement
hotel. Doni memandang Rhea, meraih kedua tangannya.
“Gue nggak tau lo balik secepet ini. Gue bener-bener
nggak tau Rhe, setelah gue lulus. Gue makin kepikiran sama lo. Betapa jahat
banget gue dulu acuhin lo, jauhin lo. Tapi lo tetep care sama gue. Tetep ngingetin gue segala macem. Gue baru sadar
betapa berartinya lo setelah lo pindah, setelah kita lulus. Dan gue cuma bisa
teriak-teriak ngutukin diri gue sendiri. Lo baik, Rhe. Gue minta maaf” Doni
menunduk, air mukanya tampak menyesal
“Don” Rhea menarik tangannya, lalu memegang kedua pipi
Doni hingga mereka saling tatap.
“aku udah maafin kamu dari dulu, dari kita belum lulus.
Aku waktu itu sadar Don. Nggak pernah ada yang bisa dipaksaksan terutama cinta.
Aku tau dulu aku sangat egois. Aku Cuma nggak tau gimana cara lupain kamu,
hilangin kamu dari setiap perasaan yang dateng tanpa pernah aku kira. Dimataku,
kamu tetep baik, tetep paling baik.” Rhea menangis, Doni menghapus air mata
Rhea dan memeluknya. Rhea menangis di pundak Doni.
“Rhe, aku sayang kamu” ujar Doni disela-sela pelukannya
“aku juga sayang kamu, Don” ujar Rhea. Rhea mengangkat
wajahnya, menghapus air matanya
“Don? Berhubung besok aku pulang. Aku mau minum-minum
malem ini sama kamu, ngobrol-ngobrol jaman putih abu-abu. Di discotheque hotel aja.
Gimana?” tanya Rhea sambil tersenyum
“kamu pinter. Yuk” jawab Doni sambil keluar dari mobil
disusul oleh Rhea. Mereka bahagia.
Doni dan Rhea duduk di sofa sembari tertawa-tawa
mengenang masa-masa SMA. Mereka sangat menikmati malam ini, merasa terlepas
dari beban. Terutama Rhea, perasaannya sudah tak pernah kalut lagi akan di
acuhkan oleh Doni. Begitu pula Doni. Ia berjanji tak akan pernah mengacuhkan
Rhea lagi.