Dariku, untukmu
Bulan bersembunyi di balik lenganku. Ketika hujan menjadi pajangan malam
yang dingin dan sepi. Benar-benar sepi. Siapa yang tidak risau dengan suasana
seperti ini? Suasana pembangkit memori lama, suasana pembangkit rindu yang
egois tak mau pergi, suasana dimana aku bebas menangis dibawah derasnya hujan,
agar tidak ada yang tahu seberapa parau suara isakku. Angin melumat semua
anganku. Dibawanya terbang ke ujung neraka. Pupus.
Aku adalah perindu gelap malam, perindu dingin sepi, karena hanya dalam
gelap malam yang dingin dan sepi aku bebas memilikimu seutuhnya, semauku, dalam
setiap memori tentangmu.
Aku adalah perindumu paling bijaksana, paling setia, paling mengerti.
Bahwasanya kamu bukan ada untuk bersamaku. Terkadang aku hanya ingin bersemuka
denganmu, memegang erat kedua tanganmu dan memelukmu hingga tak ada penghalang
lagi diantara kita, hingga tak lagi rasakan rindu yang menyiksa, hingga kita
sama-sama nyaman dibuatnya. Menemukan rumah terhangat untuk kembali pulang,
dalam pelukan antara aku dan kamu.
Kemarilah, ku tuntun kau melihat indahnya surga dunia, yang orang sangat
ingin berebut untuk masuk kedalamnya. Bukan, ini bukan perihal bercinta. Ini
perihal aku dan kamu melebur jadi satu di dalam doa dan pinta. Agar kelak Dia
kabulkan permintaan tulus suci dari seorang wanita pemimpi yang tak pernah
henti memintamu tuk ada disisi.
Purwokerto, Oktober
2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tinggalkan jejak, agar aku dapat selalu mengingatmu.