Selasa, 15 Oktober 2013

Dariku Untukmu


Dariku, untukmu

Bulan bersembunyi di balik lenganku. Ketika hujan menjadi pajangan malam yang dingin dan sepi. Benar-benar sepi. Siapa yang tidak risau dengan suasana seperti ini? Suasana pembangkit memori lama, suasana pembangkit rindu yang egois tak mau pergi, suasana dimana aku bebas menangis dibawah derasnya hujan, agar tidak ada yang tahu seberapa parau suara isakku. Angin melumat semua anganku. Dibawanya terbang ke ujung neraka. Pupus.

Aku adalah perindu gelap malam, perindu dingin sepi, karena hanya dalam gelap malam yang dingin dan sepi aku bebas memilikimu seutuhnya, semauku, dalam setiap memori tentangmu.

Aku adalah perindumu paling bijaksana, paling setia, paling mengerti. Bahwasanya kamu bukan ada untuk bersamaku. Terkadang aku hanya ingin bersemuka denganmu, memegang erat kedua tanganmu dan memelukmu hingga tak ada penghalang lagi diantara kita, hingga tak lagi rasakan rindu yang menyiksa, hingga kita sama-sama nyaman dibuatnya. Menemukan rumah terhangat untuk kembali pulang, dalam pelukan antara aku dan kamu.

Kemarilah, ku tuntun kau melihat indahnya surga dunia, yang orang sangat ingin berebut untuk masuk kedalamnya. Bukan, ini bukan perihal bercinta. Ini perihal aku dan kamu melebur jadi satu di dalam doa dan pinta. Agar kelak Dia kabulkan permintaan tulus suci dari seorang wanita pemimpi yang tak pernah henti memintamu tuk ada disisi.


Purwokerto, Oktober 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tinggalkan jejak, agar aku dapat selalu mengingatmu.