Minggu, 20 Oktober 2013

Selamat Tinggal


Selamat Tinggal


Aku pernah menungguimu disini, dibawah atap tempatku berteduh dari derasnya air yang turun dari balik awan gelap. Aku pernah menungguimu disini, menunggu untuk kau bawakan sebuah payung hitam. Aku pernah menungguimu disini, hingga aku basah kuyup karena derasnya hujan dan air mataku tak kunjung membawamu untuk menjemputku.

Aku termenung menatap hujan sore ini, sore dimana aku berteduh. Dahulu, ketika ada masa bernama aku dan kamu. Masa dimana aku menunggu sebuah kesia-siaan di akhir penantian. Masa dimana kamu tak kunjung datang dan tak pernah datang lagi. Ditelan badai dan petir yang menggelegar. Aku duduk diatas kursi berwarna pudar yang pernah kamu lewatkan. Melewatkan aku, melewatkan kita. Aku melipat kedua tanganku dan memejam sembari menghisap dalam-dalam aroma hujan yang kata orang terasa menenangkan.

Tidak!

Ini tidak menenangkan!

Ini terasa sangat menyakitkan. Apalagi kenangan antara aku dan kamu selain hujan, penantian, dan kekecewaan?

Aku membuka mata, berlari menuju kerumunan hujan yang kunamai itu sebagai tumpahan kesedihan. Aku berlari tanpa menengok lagi tempat dimana ada bangku pudar dan memori tentangmu. Aku berlari sekencang yang aku bisa. Aku berlari meninggalkan runtuhan hati untuk kembali menatanya tanpa ada sisa diantara kita. Selamat tinggal.


Purwokerto, Oktober 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tinggalkan jejak, agar aku dapat selalu mengingatmu.