Selamat Tinggal
Aku pernah
menungguimu disini, dibawah atap tempatku berteduh dari derasnya air yang turun
dari balik awan gelap. Aku pernah menungguimu disini, menunggu untuk kau
bawakan sebuah payung hitam. Aku pernah menungguimu disini, hingga aku basah
kuyup karena derasnya hujan dan air mataku tak kunjung membawamu untuk
menjemputku.
Aku termenung
menatap hujan sore ini, sore dimana aku berteduh. Dahulu, ketika ada masa
bernama aku dan kamu. Masa dimana aku menunggu sebuah kesia-siaan di akhir penantian.
Masa dimana kamu tak kunjung datang dan tak pernah datang lagi. Ditelan badai
dan petir yang menggelegar. Aku duduk diatas kursi berwarna pudar yang pernah
kamu lewatkan. Melewatkan aku, melewatkan kita. Aku melipat kedua tanganku dan
memejam sembari menghisap dalam-dalam aroma hujan yang kata orang terasa
menenangkan.
Tidak!
Ini tidak
menenangkan!
Ini terasa
sangat menyakitkan. Apalagi kenangan antara aku dan kamu selain hujan,
penantian, dan kekecewaan?
Aku membuka
mata, berlari menuju kerumunan hujan yang kunamai itu sebagai tumpahan
kesedihan. Aku berlari tanpa menengok lagi tempat dimana ada bangku pudar dan
memori tentangmu. Aku berlari sekencang yang aku bisa. Aku berlari meninggalkan
runtuhan hati untuk kembali menatanya tanpa ada sisa diantara kita. Selamat
tinggal.
Purwokerto, Oktober 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tinggalkan jejak, agar aku dapat selalu mengingatmu.