Selasa, 22 Oktober 2013

Cerpen


Gadis Ayu Dukuhsari


Namanya Tia, ia gadis dari sebuah desa kecil bernama Dukuhsari. Siapa yang tidak kenal Tia, gadis ayu yang sopan itu idola semua warga. Tak terkecuali Fikri. Lelaki soleh yang menjadi buah bibir ibu-ibu kampung Dukuh yang berebut menjadikan Fikri mantu bagi anak perawan mereka. Tapi Fikri tidak mau, ia terlanjur jatuh cinta kepada Tia.
            Dibalik wajah Tia yang bersinar dibawah cahaya rembulan. Ia menyimpan beribu kegelisahan. Tentang ibu semata wayangnya yang menjadi tanggung jawab Tia sejak kepergian ayahnda Tia. Barang-barangnya telah habis ia jual untuk membiayai ibunya yang telah lama mengidap penyakit yang tak urung juga sembuh. Hutangan dari Barno yang terkenal sifat premannya pun berani Tia pinjam. Demi sang Ibu, harga tak ternilai bagi Tia. Tia menangis, menangis di kala fajar belum menampakkan sinarnya, menangis sambil bersujud dan berdoa kepada Sang Pencipta, Sang Maha Baik, Sang Maha Penolong.
Tuhanku yang maha baik, berilah jalan untuk hambaMu ini yang sedang diterpa kesusahan, berilah keringanan pada hambaMu ini untuk senantiasa sabar menjalani setiap cobaan yang engkau berikan. YaTuhan pencipta alam, semoga Engkau mendengar doa yang tak senantiasa putus dari HambaMu ini.”
***
Fikri memelas iba pada Tia, gadis impiannya yang sedang terbelenggu kesusahan. Sampai ia harus menjadi kuli angkut di pasar, demi uang yang tidak sebanding dengan upaya Tia.
“Tia, kamu kenapa harus bekerja kasar seperti ini. Bukankah sudah saya tawarkan untuk meminjam uang saya dulu untuk pengobatan ibumu?” Ucap Fikri setelah berhasil membujuk Tia untuk istirahat di warung kecil.
“Tidak usah, Mas. Saya lebih baik seperti ini. Terimakasih tawarannya.” Jawab Tia seusai meneguk air mineral yang dibawanya.
“Saya tidak tega melihatmu, usaha kamu tidak dihargai seberapa oleh mereka. Tolong terima, ini ada sedikit rejeki untuk ibumu.” Fikri menyodorkan amplop putih kepada Tia.
“Maaf Mas. Saya tidak bisa. Saya tidak suka berhutang budi, Mas. Maaf Mas, saya permisi.” Tia menyerahkan amplop itu kembali dan berjalan pergi, menjalani rutinitasnya. Fikri hanya menggeleng, melas.
***
Kumandang adzan sudah bergeming, Tia yang sedang di perjalanan menuju rumahnya segera mempercepat langkahnya. Setelah sampai dirumah, Tia segera mengambil air wudhu, membasuh wajah ayunya dan melaksanakan perintahNya.
“Tia” panggil Ibu Tia seusai Tia melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.
“ya, Bu?” Tia mendekat kepada Bu Sum, nama ibu Tia.
“Maafkan ibu cah ayu, ibu selalu menyusahkan Tia. Tia yang harus menjadi tulang punggung ibu semenjak kepergian ayahmu. Maafkan ibu.” Bu Sum memegangi tangan Tia dan air mata turun dari mata wanita tua itu.
“Ibu, ibu tidak usah minta maaf, ini sudah jadi kewajiban Tia sebagai anak Ibu. Cuma ini yang bisa Tia lakukan untuk membalas jasa ibu selama ini kepada Tia.” Tia tak urung juga menangis.
Uhuk uhuk uhuk. Ibu Tia terbatuk dan mengeluarkan darah.
“Ibu kenapa?” Tia panik
“Ibu nggak apa-apa nak, ibu cuma mau istirahat saja. Kamu juga istirahat ya, nak.” Ibu Tia meyakinkan Tia. Tia hanya mengangguk, pasrah.

Tia berjalan menuju kamarnya. Menangis di dalam diam, merintih, hingga sesak seluruh dada Tia. Tia harus melakukan sesuatu untuk ibunya. Meskipun jalan itu salah. Tia harus. Harus.
Esok harinya, Tia memecahkan tabungan yang ia kumpulkan seperak demi seperak untuk ibunya. Ia pecahkan dan Tia berjalan menuju pasar. Membeli kebutuhan untuk rencana besarnya yang telah Tia pertimbangkan matang-matang, semalam.
Waktu menunjukkan tengah malam ketika Ibu Tia dan sebagian warga Dukuh sudah terbang ke alam mimpinya. Tia tidak tahu ada satu orang yang belum tidur, mengawasi gerak-geriknya sedari tadi siang, saat Tia menuju pasar. Mengawasi Tia karena ia tahu ada sesuatu yang tidak beres terjadi pada Tia. Ia Fikri.
Tia bersolek, memakai pakaian terbaiknya yang ia beli di pasar tadi siang. Ia mengendap seperti seorang maling. Mengendap keluar kamar. Mengendap keluar Dukuh hingga sampai di jalan besar yang sudah banyak orang tahu disana adalah tempat mangkalnya pelacur-pelacur cantik, mulai dari yang senior sampai yang junior seperti dirinya. Tia berdiri disana, menunggu mobil-mobil mewah seperti yang sering Tia lihat di TV tetangganya menghampirinya. Tia berdiri dan menunduk.

Saya harus lakukan ini, demi ibu. Batin Tia.

Satu mobil mewah berdiri tepat di depan Tia. Ketika kaca mobil itu dibuka, tertampanglah satu wajah tampan seorang pria yang umurnya kira-kira sama dengan Tia. Ia tersenyum kepada Tia sembari memberi kode kepada Tia agar cepat menaikki mobilnya. Tiapun manut.
“siapa namamu?” lelaki itu bertanya.
“Tia.” Jawab Tia, gugup.
“saya Nico, baru pertama disini ya? Atau baru pertama jadi pelacur?” Nico to the point menanyakan kepada Tia.
“saya baru pertama jadi seperti ini.” Ujar Tia memelas.
“baiklah, saya cuman butuh kamu tidak lama. Satu jam saja. Setelah itu saya antar kamu kesini lagi. Oke Tia?” Ujar Nico yang beralih menatap Tia. Yang Tia jawab hanya dengan anggukan.
Dibawanya Tia kehotel berbintang yang Tia sendiri tidak pernah memasukinya. Tia berjalan mengikuti Nico sesekali melihat sekeliling hotel yang sangat indah, menurut Tia.
Mereka sampai dikamar yang sudah dipesan Nico. Nico berbaring ditempat tidur. Tia hanya berdiri di balik pintu. Tia takut.
“Tia, kamu ngapain disitu? Sini masuk.” Ujar Nico. Tiapun menuruti.
Tia duduk disamping Nico. Nico memandangi setiap lekuk tubuh Tia yang menurutnya pas. Tidak kurang dan tidak lebih. Nico mencium pipi Tia yang membuat Tia terperangah. Lalu Nico mematikan lampu kamar. Dan tembok-tembok kamar menjadi saksi bisu perjuangan Tia. Perjuangan yang mempertaruhkan harta satu-satunya Tia.
Satu jam berlalu, setelah melalui masa-masa terberat Tia yang masih polos ini. Tia duduk di tepi ranjang, masih belum mengenakan pakaiannya. Nico yang sudah rapi itu duduk disamping Tia.
“Tia, sebenarnya apa yang membuat kamu menjadi seperti ini?” Nico bertanya
“Ibu....ibu saya sakit...saya butuh uang.” Tia terisak. Nico memeluk Tia, hangat.
“Ini, ambil. Saya kasih kamu sepuluh juta. Mungkin ini bisa bantu meringankan beban ibumu.” Nico menyodorkan amplop putih.
“apa.. apa ini tidak terlalu banyak?” ujar Tia.
“tidak apa-apa. Asal kamu janji setelah ini kamu jangan lagi menjadi kupu-kupu malam lagi.” Nico tersenyum.
“kenapa?” Tia bingung.
“cukup saya saja yang menjamah kamu. Cukup. Ohya, Tia rumah kamu dimana? Saya boleh mengantar kamu?” Nico bertanya.
“Rumah saya di desa Dukuh. Kamu, baik. Terimakasih Nico.” Tia tersenyum.
***
Nico mengantar Tia sampai rumahnya, sebelum sampai rumah dipakaikannya jaket Nico yang membungkus tubuh kecil Tia. Agar tidak ada mata memandang nakal kepadanya. Namun, ada sepasang mata yang memandang mereka dengan tatapan marah, kesal, putus asa. Fikri.

“Tia” panggil Fikri setelah kepergian Nico.
“Fikri? Kamu ngapain disini?” tanya Tia heran.
“Saya yang harusnya tanya, kenapa kamu subuh-subuh begini baru pulang. Dengan lelaki yang saya yakin kamu tidak kenal sebelumnya. Kenapa?” Fikri bertanya seperti menahan marah.
“Saya harus seperti ini! Jalan saya harus seperti ini Mas! Saya ingin ibu saya sembuh! Jangan campuri urusan saya lagi Mas. Tolong” Tia menangis.
“Baik. Baik. Saya tidak mencampuri urusanmu lagi. Semoga Tuhan memberikanmu jalan paling baik. Saya pergi Tia. Permisi.” Fikri pasrah. Ia tidak ingin berdebat. Ia melepaskan Tia. Berat hari. Tetapi harus.

Sepasang telinga mencuri dengar pembicaraan dua anak muda dikala fajar hampir menunjukkan kilaunya. Sepasang terlinga yang berubah menjadi aliran air mata di kedua pelupuk wanita tua yang sakit-sakitan itu. Bu Sum. Ibu Tia.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tinggalkan jejak, agar aku dapat selalu mengingatmu.