Gadis
Ayu Dukuhsari
Namanya Tia, ia gadis dari sebuah desa kecil bernama
Dukuhsari. Siapa yang tidak kenal Tia, gadis ayu yang sopan itu idola semua
warga. Tak terkecuali Fikri. Lelaki soleh yang menjadi buah bibir ibu-ibu
kampung Dukuh yang berebut menjadikan Fikri mantu bagi anak perawan mereka.
Tapi Fikri tidak mau, ia terlanjur jatuh cinta kepada Tia.
Dibalik wajah Tia yang bersinar
dibawah cahaya rembulan. Ia menyimpan beribu kegelisahan. Tentang ibu semata
wayangnya yang menjadi tanggung jawab Tia sejak kepergian ayahnda Tia.
Barang-barangnya telah habis ia jual untuk membiayai ibunya yang telah lama
mengidap penyakit yang tak urung juga sembuh. Hutangan dari Barno yang terkenal
sifat premannya pun berani Tia pinjam. Demi sang Ibu, harga tak ternilai bagi
Tia. Tia menangis, menangis di kala fajar belum menampakkan sinarnya, menangis
sambil bersujud dan berdoa kepada Sang Pencipta, Sang Maha Baik, Sang Maha
Penolong.
“Tuhanku yang maha
baik, berilah jalan untuk hambaMu ini yang sedang diterpa kesusahan, berilah
keringanan pada hambaMu ini untuk senantiasa sabar menjalani setiap cobaan yang
engkau berikan. YaTuhan pencipta alam, semoga Engkau mendengar doa yang tak
senantiasa putus dari HambaMu ini.”
***
Fikri memelas iba pada Tia, gadis impiannya yang sedang
terbelenggu kesusahan. Sampai ia harus menjadi kuli angkut di pasar, demi uang
yang tidak sebanding dengan upaya Tia.
“Tia, kamu kenapa harus bekerja kasar seperti ini.
Bukankah sudah saya tawarkan untuk meminjam uang saya dulu untuk pengobatan ibumu?”
Ucap Fikri setelah berhasil membujuk Tia untuk istirahat di warung kecil.
“Tidak usah, Mas. Saya lebih baik seperti ini.
Terimakasih tawarannya.” Jawab Tia seusai meneguk air mineral yang dibawanya.
“Saya tidak tega melihatmu, usaha kamu tidak dihargai
seberapa oleh mereka. Tolong terima, ini ada sedikit rejeki untuk ibumu.” Fikri
menyodorkan amplop putih kepada Tia.
“Maaf Mas. Saya tidak bisa. Saya tidak suka berhutang
budi, Mas. Maaf Mas, saya permisi.” Tia menyerahkan amplop itu kembali dan
berjalan pergi, menjalani rutinitasnya. Fikri hanya menggeleng, melas.
***
Kumandang adzan sudah bergeming, Tia yang sedang di
perjalanan menuju rumahnya segera mempercepat langkahnya. Setelah sampai
dirumah, Tia segera mengambil air wudhu, membasuh wajah ayunya dan melaksanakan
perintahNya.
“Tia” panggil Ibu Tia seusai Tia melaksanakan
kewajibannya sebagai seorang muslim.
“ya, Bu?” Tia mendekat kepada Bu Sum, nama ibu Tia.
“Maafkan ibu cah ayu, ibu selalu menyusahkan Tia. Tia
yang harus menjadi tulang punggung ibu semenjak kepergian ayahmu. Maafkan ibu.”
Bu Sum memegangi tangan Tia dan air mata turun dari mata wanita tua itu.
“Ibu, ibu tidak usah minta maaf, ini sudah jadi kewajiban
Tia sebagai anak Ibu. Cuma ini yang bisa Tia lakukan untuk membalas jasa ibu
selama ini kepada Tia.” Tia tak urung juga menangis.
Uhuk uhuk uhuk. Ibu Tia terbatuk dan mengeluarkan darah.
“Ibu kenapa?” Tia panik
“Ibu nggak apa-apa nak, ibu cuma mau istirahat saja. Kamu
juga istirahat ya, nak.” Ibu Tia meyakinkan Tia. Tia hanya mengangguk, pasrah.
Tia berjalan menuju kamarnya. Menangis di dalam diam,
merintih, hingga sesak seluruh dada Tia. Tia harus melakukan sesuatu untuk
ibunya. Meskipun jalan itu salah. Tia harus. Harus.
Esok harinya, Tia memecahkan tabungan yang ia kumpulkan
seperak demi seperak untuk ibunya. Ia pecahkan dan Tia berjalan menuju pasar.
Membeli kebutuhan untuk rencana besarnya yang telah Tia pertimbangkan
matang-matang, semalam.
Waktu menunjukkan tengah malam ketika Ibu Tia dan
sebagian warga Dukuh sudah terbang ke alam mimpinya. Tia tidak tahu ada satu
orang yang belum tidur, mengawasi gerak-geriknya sedari tadi siang, saat Tia
menuju pasar. Mengawasi Tia karena ia tahu ada sesuatu yang tidak beres terjadi
pada Tia. Ia Fikri.
Tia bersolek, memakai pakaian terbaiknya yang ia beli di
pasar tadi siang. Ia mengendap seperti seorang maling. Mengendap keluar kamar.
Mengendap keluar Dukuh hingga sampai di jalan besar yang sudah banyak orang
tahu disana adalah tempat mangkalnya pelacur-pelacur cantik, mulai dari yang senior
sampai yang junior seperti dirinya. Tia berdiri disana, menunggu mobil-mobil
mewah seperti yang sering Tia lihat di TV tetangganya menghampirinya. Tia
berdiri dan menunduk.
Saya harus lakukan ini, demi
ibu. Batin Tia.
Satu mobil mewah berdiri tepat di depan Tia. Ketika kaca
mobil itu dibuka, tertampanglah satu wajah tampan seorang pria yang umurnya
kira-kira sama dengan Tia. Ia tersenyum kepada Tia sembari memberi kode kepada
Tia agar cepat menaikki mobilnya. Tiapun manut.
“siapa namamu?” lelaki itu bertanya.
“Tia.” Jawab Tia, gugup.
“saya Nico, baru pertama disini ya? Atau baru pertama
jadi pelacur?” Nico to the point
menanyakan kepada Tia.
“saya baru pertama jadi seperti ini.” Ujar Tia memelas.
“baiklah, saya cuman butuh kamu tidak lama. Satu jam saja.
Setelah itu saya antar kamu kesini lagi. Oke Tia?” Ujar Nico yang beralih
menatap Tia. Yang Tia jawab hanya dengan anggukan.
Dibawanya Tia kehotel berbintang yang Tia sendiri tidak
pernah memasukinya. Tia berjalan mengikuti Nico sesekali melihat sekeliling
hotel yang sangat indah, menurut Tia.
Mereka sampai dikamar yang sudah dipesan Nico. Nico
berbaring ditempat tidur. Tia hanya berdiri di balik pintu. Tia takut.
“Tia, kamu ngapain disitu? Sini masuk.” Ujar Nico. Tiapun
menuruti.
Tia duduk disamping Nico. Nico memandangi setiap lekuk
tubuh Tia yang menurutnya pas. Tidak kurang dan tidak lebih. Nico mencium pipi
Tia yang membuat Tia terperangah. Lalu Nico mematikan lampu kamar. Dan
tembok-tembok kamar menjadi saksi bisu perjuangan Tia. Perjuangan yang mempertaruhkan
harta satu-satunya Tia.
Satu jam berlalu, setelah melalui masa-masa terberat Tia
yang masih polos ini. Tia duduk di tepi ranjang, masih belum mengenakan
pakaiannya. Nico yang sudah rapi itu duduk disamping Tia.
“Tia, sebenarnya apa yang membuat kamu menjadi seperti
ini?” Nico bertanya
“Ibu....ibu saya sakit...saya butuh uang.” Tia terisak.
Nico memeluk Tia, hangat.
“Ini, ambil. Saya kasih kamu sepuluh juta. Mungkin ini
bisa bantu meringankan beban ibumu.” Nico menyodorkan amplop putih.
“apa.. apa ini tidak terlalu banyak?” ujar Tia.
“tidak apa-apa. Asal kamu janji setelah ini kamu jangan
lagi menjadi kupu-kupu malam lagi.” Nico tersenyum.
“kenapa?” Tia bingung.
“cukup saya saja yang menjamah kamu. Cukup. Ohya, Tia
rumah kamu dimana? Saya boleh mengantar kamu?” Nico bertanya.
“Rumah saya di desa Dukuh. Kamu, baik. Terimakasih Nico.”
Tia tersenyum.
***
Nico mengantar Tia sampai rumahnya, sebelum sampai rumah
dipakaikannya jaket Nico yang membungkus tubuh kecil Tia. Agar tidak ada mata
memandang nakal kepadanya. Namun, ada sepasang mata yang memandang mereka
dengan tatapan marah, kesal, putus asa. Fikri.
“Tia” panggil Fikri setelah kepergian Nico.
“Fikri? Kamu ngapain disini?” tanya Tia heran.
“Saya yang harusnya tanya, kenapa kamu subuh-subuh begini
baru pulang. Dengan lelaki yang saya yakin kamu tidak kenal sebelumnya.
Kenapa?” Fikri bertanya seperti menahan marah.
“Saya harus seperti ini! Jalan saya harus seperti ini
Mas! Saya ingin ibu saya sembuh! Jangan campuri urusan saya lagi Mas. Tolong”
Tia menangis.
“Baik. Baik. Saya tidak mencampuri urusanmu lagi. Semoga
Tuhan memberikanmu jalan paling baik. Saya pergi Tia. Permisi.” Fikri pasrah.
Ia tidak ingin berdebat. Ia melepaskan Tia. Berat hari. Tetapi harus.
Sepasang telinga mencuri dengar pembicaraan dua anak muda
dikala fajar hampir menunjukkan kilaunya. Sepasang terlinga yang berubah
menjadi aliran air mata di kedua pelupuk wanita tua yang sakit-sakitan itu. Bu
Sum. Ibu Tia.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tinggalkan jejak, agar aku dapat selalu mengingatmu.