Puisi Mati
Berapa ribuaan
kata demi kata kususun demi sebuah puisi pengungkapan rasa hati yang berulang
kali telah kau sakiti? Berapa banyak puisi tak bernyawa telah aku cipta? Semua mati.
Berapa banyak
tetes tinta yang aku hapus berulang-ulang diatas kertas putih yang aku berikan
padamu?
Semua tentang
kamu. Kamu, hanya itu.
Masih dengan
tidak kemengertianku atau kebodohanku. Masih saja aku mengharapkanmu,
mengharapkanmu untuk menuntunku kembali setelah sekian kali kau jatuhkan.
Lebam.
Coba sesekali
rasakan bagaimana menjadi aku. Menjadi sosok pencinta, sosok pengharap,
penyabar dan tentu saja pemaaf. Mungkin kamu tahu, berulang kali aku menelan
air mata yang tidak ingin aku tumpahkan karenamu. Tahu bagaimana rasanya?
Pahit. Aku jawab sekali lagi. P A H I T.
Tolong, sekali
ini saja. Mengerti. Aku telah menunggumu begitu lama. Menunggumu dalam antrean
yang sepertinya tak pernah habis. Tolong, hargai jika kau tidak bisa mengerti.
Hargai, itu sudah lebih dari sekedar cukup.
Purwokerto, Oktober 2013