Jumat, 13 Desember 2013

Pemeran Pembantu



Pemeran Pembantu

Ada lelah yang menunggu dan meronta minta dikasihani. Diberi sedikit rasa melas. Ia berusaha keras berteriak. Tapi apa dayanya, ada hati berada di puncak tertinggi sebuah rasa. Lelah hinggap tak terasa. Padahal ia ada, hanya saja ia kalah. Menjadi diam dan menangis tersedu. Namun masih ada juga senyum, ia berpura-pura berdiri tegak disana. Di wajah  manisnya yang jikalau saja orang lebih memperhatikan air mukanya, ia merintih.

Bagaiamana dengan sebuah drama percintaan komedi sekaligus menyayat hati? Dimana pemeran utamanya adalah aku dan kamu? Mungkin pernonton sudah gemas dibuatnya. Ada aku yang diam saja ketika tak diberi rasa. Dan mungkin penonton akan tertawa atau menyumpah-serapah perbuatan konyolku ini. Berjuang untuk yang tidak ingin diperjuangkan?

Atau aku saja yang menjadi seorang sutradara dan kau yang menjadi bagian utama dari sebuah drama. Aku jungkir balikkan peranmu, menjadi sampah yang terinjak-injak lantas menjadi seorang pangeran dengan banyak selir. Atau menjadi seorang pangeran yang diperebutkan lalu menjadi tak berdaya karena terjebak permainannya sendiri. Kau mau piih yang mana?

Tidak, tidak. Aku akan mengambil peran pembantu disini. Dimana tugasku membantu pemeran utama; kamu. Kamu yang mengejar cinta seorang Puteri. Dan aku membantumu melesat kepadanya. Jika kamu tersandung, aku membantumu bangkit. Atau mungkin jika kamu terjerembab jatuh. Aku yang akan membawamu terbang. Tenang saja, aku tak akan minta apa-apa. Bukankah begitu tugas seorang pemeran pembantu? Mulia sekali, bukan?

Baiklah, aku ingin istirahat barang sejenak. Melatih bibir agar selalu tersenyum. Bagaimanapun, peran pembantu tetap saja berperan kan? Entah dianggap atau tidak. Tugasku hanya begitu.



Purwokerto, Desember 2013

Kamis, 05 Desember 2013

Kau Dan Arogansimu


 Kau Dan Arogansimu


Sayang, ternyata waktu dan perjuanganku tidak lagi kamu hargai, bukan? Lalu aku harus bagaimana lagi? Lelah memaksaku menyerah. Namun disisi lain, hati menghendaki terus memperjuangkanmu.

Apa yang kau cari-cari selama ini, Sayang? Semua yang aku beri tidaklah cukup? Katakan saja apa maumu, aku akan turuti. Kalau saja aku mampu pergi darimu, aku tidak akan seperti ini. Menjadi penggembala yang menurutimu apapun. Saat aku ingin beranjak, tubuhku seperti terpaku ditempat. Aku tidak mampu. Ternyata meninggalkanmu bukan perkara yang mudah.

Sedikit saja, aku ingin dihargai olehmu. Atau kalau kau tetap tidak bisa. Lepaskan aku. Jangan selalu memandangku dengan tatapanmu yang sedih itu, tatapan seorang bocah yang tak ingin ditinggal sendirian. Bagaimana kau bisa seegois itu? Kau tak menginginkan aku pergi, namun keberadaankupun tak pernah kamu hargai.

Kau pikir aku ini apa?


Kau pikir kau itu siapa?



Purwokerto, Desember 2013

Senin, 02 Desember 2013

Mencintaimu Tanpa Jeda


Mencintaimu Tanpa Jeda;
@numfdh dan Arvian Yudhistira; Tuhan bersama setiap langkah kalian.


Siapa yang menyangka jadi seperti ini, Sayang? Dari pemberian kecilmu pagi itu. Bagiku itu berharga, entah mengapa. Kita telah mengarungi waktu, membuka pribadi aku dan kamu untuk saling menerima apapun kekurangannya. Kamu menerimaku sebagaimana aku. Begitu pula aku menerimamu sebagaimana drimu. Ada rasa bahagia yang tak tergambarkan saat melihatmu melintas di depanku dengan senyummu itu. Ada pula tangis yang meledak saat cemburu mengusik hati. Sayang, jika boleh aku berkata jujur. Aku teramat takut kehilanganmu, aku ingin memelukmu tanpa aku lepas lagi. Sungguh, dirimu teramat berarti. Aku pernah dicampakkan oleh masa laluku—kau tahu sendiri. Dan dengan jalannya, dengan alur yang telah Tuhan berikan kepadaku. Ada kamu yang berhasil membalut semua lukaku. Memberinya penawar yang paling ampuh mengusir rasa kecewaku. Sayang, aku ingin terus bersamamu, mengenggam erat tanganmu dan menikmati senja yang tak pernah kelam. Aku ingin bersamamu menyusuri pantai, bermain dengan ombak yang menggelitik kakiku dan kakimu.

Tertawa puas,


tanpa pernah takut kehilanganmu lagi.




Purwokerto, Desember 2013

Minggu, 01 Desember 2013

Tanpa Perlu Mereka-reka


Tanpa Perlu Mereka-reka


Resapi setiap syair yang tercipta untukmu, Sayang. Hanya dengan begini aku dapat selalu menyayangimu, tanpa perlu takut untuk tak kau pedulikan. Sebab disini, kau seperti pendengar setiaku. Maka kata-kataku adalah tulus. Hanya untukmu.

Kau tau, begitu takut aku kehilanganmu, tak lagi kau rindu-rindukan. Jadi, selama ingatanku belum luruh tentangmu, aku akan memberimu apa yang aku mampu berikan. Hanya dengan begitu, Sayang. Aku dapat tetap mencintaimu. Tanpa perlu mereka-reka. Seringkali kamu menyebalkan. Namun entah bagaimana, dengan sikapmu yang manja itu, aku ingin selalu mendekapmu saat kau mulai merajuk. Kau sangat lucu, sungguh. Aku ingin terus menjagamu, Sayang. Jika kau izinkan, satu kali kesempatan. Dan aku berjanji; kau tak akan pernah aku sia-siakan.


Purwokerto, Desember 2013