Sebuah Penantian;
yang tak kunjung nyata
Entah berapa
lama aku menunggumu sendirian disini. Dibawah pohon beringin seperti yang kau
janjikan. Ketika terik matahari berubah menjadi bulir-bulir hujan yang
membasahi seluruh tubuhku. Aku tetap menunggu.
Aku tetap
menunggumu karena aku masih percaya kau akan datang, membawakanku kehangatan
dari peluk tubuhmu. Entah berapa lama. Aku tetap menunggu.
Hujan ini
sudah reda. Matahari sudah bersembunyi, dan kini giliran senja menampakkan
cantiknya. Betapa sempurna keadaan ini, bau tanah yang menyeruak, merah senja
yang berada di langit biru. Sempurna.
Bagaimana
hatiku?
Kau tak
kunjung datang sementara angin mempererat pelukannya kepadaku. Aku yang kata
orang tangguh ini ternyata mampu terkulai karena sebuah penantian yang tak
nyata. Karena kamu.
Ada hujan di
pelupuk mataku.
Aku bangkit
dan tersenyum. Sembari berjalan menghapus sisa dari bulir air mataku.
Purwokerto,
Oktober 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tinggalkan jejak, agar aku dapat selalu mengingatmu.