Rabu, 23 Oktober 2013

Sebuah Penantian


Sebuah Penantian;
yang tak kunjung nyata


Entah berapa lama aku menunggumu sendirian disini. Dibawah pohon beringin seperti yang kau janjikan. Ketika terik matahari berubah menjadi bulir-bulir hujan yang membasahi seluruh tubuhku. Aku tetap menunggu.

Aku tetap menunggumu karena aku masih percaya kau akan datang, membawakanku kehangatan dari peluk tubuhmu. Entah berapa lama. Aku tetap menunggu.

Hujan ini sudah reda. Matahari sudah bersembunyi, dan kini giliran senja menampakkan cantiknya. Betapa sempurna keadaan ini, bau tanah yang menyeruak, merah senja yang berada di langit biru. Sempurna.

Bagaimana hatiku?

Kau tak kunjung datang sementara angin mempererat pelukannya kepadaku. Aku yang kata orang tangguh ini ternyata mampu terkulai karena sebuah penantian yang tak nyata. Karena kamu.

Ada hujan di pelupuk mataku.

Aku bangkit dan tersenyum. Sembari berjalan menghapus sisa dari bulir air mataku.



Purwokerto, Oktober 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tinggalkan jejak, agar aku dapat selalu mengingatmu.