Jumat, 16 Mei 2014

Kenapa Saya Harus Pergi Ke Inggris?


Kenapa Saya Harus Pergi Ke Inggris?

            Buat gue yang pingin habisin masa-masa remaja gue dengan hal yang menyenangkan seperti jalan-jalan ke luar negeri gratis itu perlu dicoba, apalagi Inggris. Dan kalo kalian masih tanya kenapa harus Inggris? Mungkin kalian perlu cari keyword “amazing place at England” di Google. Dan kalo kalian masih nggak ngerti juga, mungkin gue musti teriak
Hello, everybody. It’s England!”
Dan gaes, gue yang belum pernah ke luar negeri ini pingin banget ya bisa liat London, jalan-jalan, shopping, dan yang paling nggak ketinggalan adalah selfie. Zaman peradaban alat canggih-canggih begini kan perlu juga selfie, mau kasih liat temen-temen kalo gue pernah singgah di negara yang banyak dimimpiin orang-orang ini. Seenggaknya gue bisa pamer kalo gue pernah liat secara live Buckingham Palace, London Eye, Westminster Abbey, Big Ben atau atau atau....gue keburu ngiler denger lokasi-lokasinya. Pasti deh bakal jadi superb awesome trip!
Dan yang paling gue gak mau lewatin adalah...ke stadion bola gaes! Meskipun gue suka banget sama Neymar, tapi siapa sih yang mau melewatkan kalo bisa ketemu—atau bahkan foto bareng—sana Oscar Dos Santos! You must be crazy kalo lo nggak mau liat dia! Atau gue bisa jalan-jalan lagi muter-muter Stamford Bridge, Anfield, Old Trafford, White Hart Lane, Goodison Park, Emirates Stadium atau bahkan Etihad Stadium! Secara aja ya kemarin sepak bola Inggris lagi kece, tau kan Chelsea bisa maju ke semifinal Liga Champion? Oke disini gue ga bahas bola. Tapi gue bakal bahagia banget bisa disana, bisa diantara orang yang teriak-teriak kesel karena jagoannya kalah atau bahkan nangis terharu karena jagoannya menang. Dan gue bakal bawa senyum gue waktu gue pulang balik ke Indonesia. Hehe.
Mungkin gue harus pergi ke Inggris dulu baru bisa bener-bener ngerasain gimana indahnya dunia luar karena selama ini gue cuma berkubang dalam kenangan Indonesia aja. Mungkin gue harus coba Fish and Chips, Sunday roast atau eel pie biar perut gue bisa menerima makanan bule, gue kan harus siap-siap kalo jadi sukses terus tinggal disana #halah. Terus gue bakal bawa jajan favorite gue ini ke sana, biar jadi Internasional. Biar gue nggak repot-repot balik ke Indonesia kalo kangen sama Mister Potato!




Gue nggak berharap banyak sih, gue cuma berharap bisa ke Inggris aja. #lah
Namanya juga harapan, gantungkanlah harapanmu setinggi langit! Jangan takut jatuh! Kalo  jatuh, jatuhnya ke tumpukan Smax Chip aja biar jadi crispy! Kan ingat kata pepatah
“sambil menyelam, makan Smax sambil nonton Chelsea bareng Oscar!” Jangan tanya kenapa nontonnya sama Oscar, dia lagi jadi pemain cadangan terus nemenin gue. ^^

Senin, 05 Mei 2014

Unforgettable


5 tahun sudah sejak hari kelulusan Rheanita dari SMA Sinar Gemilang, sekarang siapa yang tidak tahu wanita yang menjabat mengadi General Manager di perusahaan asing ini. Wanita yang tak kenal kata menyerah dan berambisi.
Rhea berjalan menuju taksi yang telah dipesan dari hotel tempat ia menginap untuk mendatangi reuni yang diadakan alumnus SMA Sinar Gemilang khususnya kelas 12-B, kelas Rhea. Ia sedang berada di kampung halamannya ketika reuni diadakan. Pekerjaan yang padat tidak membolehkan Rhea untuk meninggalkan Jakarta dan seluk-beluknya. Rhea sampai di cafe tempat mereka berkumpul. Ia segera memasukki cafe itu.
Degg!!
Hati Rhea mulai berdebar lagi, debaran yang sama selama 8 tahun terakhir. Debaran yang tak pernah bisa Rhea kendalikan ketika melihat Doni. Lelaki yang mampu meluluhlantakkan kehidupan Rhea, mengacuhkan Rhea sehingga Rhea kehilangan separuh semangatnya. Doni, Rhea masih cinta.
“hai! Ini deh GM kita yang super sibuk ini” Nita menyapa lalu memeluk Rhea
“Bisa aja lo, Nit. Apa kabar?” Rhea tersenyum ke arah Nita sembari matanya yang sesekali melihat ke arah Doni
“baik deh, yuk duduk” ajak Nita. Rhea segera melangkah mengikuti Nita lalu disambut senang oleh teman-temannya. Doni tak terkecuali.
“Hai, Rhe! Long time no see. How’s your life?” Masih dengan senyumnya yang bergeming disana
“Hai, Don. As you see. Kamu gimana?” Rhea menjawab kikuk
I’m pretty good.” Jawab Doni. Setelah itu Rhea dan teman-temannya mulai berbasa-basi, memang Rhea sangat rindu dengan teman kelasnya ini.


“Nit, gue mau tanya” ujar Doni berjalan menghampiri Nita ketika ia melihat Nita mengambil minuman
“eh, Don. Kenapa?” Nita yang bingung hanya memandang Doni penuh tanya
“lo kan deket sama Rhea, is she have already married?” Tanya Doni hati-hati
“lo tuh ya” Nita tertawa lirih
“gimana, Nit?” tanya Doni lagi ingin tahu
“Belum, kenapa? Lo naksir ya? Gantian deh sekarang lo yang suka” Rhea tersenyum sambil menepuk lengan Doni
“Bisa aja lo, Nit. Gue duluan ya. Thanks before” Jawab Doni lalu pergi meninggalkan Nita yang ditanggapi Nita dengan hanya anggukan kepalanya.

Waktu menunjukkan pukul sebelas malam ketika Rhea pamit dengan teman-temannya. Rhea sebenarnya belum berkemas untuk pulang kembali ke Jakarta esok siangnya. Ia sedang menunggu taksi di depan cafe ketika sebuah mobil berhenti persis didepannya.
“nggak baik nunggu sendirian malem-malem. Yuk bareng?” Tawar sang pemilik mobil itu ketika membuka kaca mobilnya. Doni.
“eh, nggak usah Don. Aku nunggu taksi aja” ujar Rhea salah tingkah.
“aku maksa deh malem ini. Masa aku tega ninggalin bidadari tengah malem begini?” Doni tersenyum. Seketika Rhea tak kuasa tersenyum juga dan memasuki mobil.
“jadi, kamu nginep dimana, Rhe?” Tanya Doni disela-sela keheningannya
“aku check-in di Haze Hotel” jawab Rhea
“oh iya. Kamu kapan balik?” tanya Doni memandang kearah Rhea.
“besok siang mungkin, Don” ujar Rhea
“kok cepetan sih?” tanya Doni lagi
“Kerjaan nggak ngijinin aku santai-santai terus Don. Kamu masih kerja di Event Organizer? Aku denger cabang baru yang di Singapore itu kamu yang pegang?” Rhea bertanya sambil melihat kearah Doni
“Ya gitu deh. Cape bolak-balik terus.” Jawab Doni singkat lalu keheningan terjadi lagi diantara mereka
“Rhe?” Doni memanggil Rhea
“ya?” Jawab Rhea
“aku nggak mau ngelewatin malem ini tanpa kamu. Aku kangen” Ujar Doni yang memandang kearah Rhea.
“maksudnya?” Rhea yang gugup hanya memandang Doni penuh tanya. Tak sadar mobilnya telah sampai di basement hotel. Doni memandang Rhea, meraih kedua tangannya.
“Gue nggak tau lo balik secepet ini. Gue bener-bener nggak tau Rhe, setelah gue lulus. Gue makin kepikiran sama lo. Betapa jahat banget gue dulu acuhin lo, jauhin lo. Tapi lo tetep care sama gue. Tetep ngingetin gue segala macem. Gue baru sadar betapa berartinya lo setelah lo pindah, setelah kita lulus. Dan gue cuma bisa teriak-teriak ngutukin diri gue sendiri. Lo baik, Rhe. Gue minta maaf” Doni menunduk, air mukanya tampak menyesal
“Don” Rhea menarik tangannya, lalu memegang kedua pipi Doni hingga mereka saling tatap.
“aku udah maafin kamu dari dulu, dari kita belum lulus. Aku waktu itu sadar Don. Nggak pernah ada yang bisa dipaksaksan terutama cinta. Aku tau dulu aku sangat egois. Aku Cuma nggak tau gimana cara lupain kamu, hilangin kamu dari setiap perasaan yang dateng tanpa pernah aku kira. Dimataku, kamu tetep baik, tetep paling baik.” Rhea menangis, Doni menghapus air mata Rhea dan memeluknya. Rhea menangis di pundak Doni.
“Rhe, aku sayang kamu” ujar Doni disela-sela pelukannya
“aku juga sayang kamu, Don” ujar Rhea. Rhea mengangkat wajahnya, menghapus air matanya
“Don? Berhubung besok aku pulang. Aku mau minum-minum malem ini sama kamu, ngobrol-ngobrol jaman putih abu-abu. Di discotheque hotel aja. Gimana?” tanya Rhea sambil tersenyum
“kamu pinter. Yuk” jawab Doni sambil keluar dari mobil disusul oleh Rhea. Mereka bahagia.

Doni dan Rhea duduk di sofa sembari tertawa-tawa mengenang masa-masa SMA. Mereka sangat menikmati malam ini, merasa terlepas dari beban. Terutama Rhea, perasaannya sudah tak pernah kalut lagi akan di acuhkan oleh Doni. Begitu pula Doni. Ia berjanji tak akan pernah mengacuhkan Rhea lagi.