Rabu, 27 November 2013

Tak Terlupa


Tak Terlupa


Semua ini berawal dari pelukanmu yang hangat itu.

Betapa aku tak ingin pergi selamanya dari nyamannya sebuah dekapan darimu. Setelah kau berhasil membuatku tergila-gila pada setiap udara yang aku hirup, desir nadi yang semakin bergejolak dan degup jantung yang tak mempunyai ritme.
Mungkin benar, aku adalah perindu paling egois. Aku hanya tidak tahu harus bagaimana menahan rindu yang terkadang tumpah menjadi air mata. Jika kamu ingin tahu—rindu teramat menyiksaku. Dengan keegoisanku ini, aku ingin kamu merindukanku juga. Hanya aku. Satu-satunya.

Aku pernah bercerita pada hujan, bahwa aku menginginimu setengah gila. Namun aku tahu pada kenyataan yang hampir tidak bersebelahan dengan mimpiku. Aku menangis. Hujan memberi isyarat padaku melalui desir angin yang berhembus melalui kulitku. Membisikkan isyarat paling lembut. Ia bilang bahwa semuanya pasti bermuara di samudra tak berbatas. Aku tersenyum miris.

Jika memang semua yang aku lakukan akan bermuara di samudra tak berbatas itu, aku masih mempertanyakan apakah yang dimaksud dengan samudra tak berbatas?

Akhir yang sempurna bersamamu?

Atau

Akhir yang sempurna tanpamu?



Purwokerto, November 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tinggalkan jejak, agar aku dapat selalu mengingatmu.