Rabu, 13 November 2013

Soliloquy Rindu


Soliloquy Rindu;
dibawah derasnya hujan, aku merindu

Aku ingin memberitahumu terkadang diamku ini berkata-kata. Ia membisikkan sesuatu lewat alam semesta; “Jangan Menyerah”. Mendekapmu saja aku tak bisa, lantas bagaimana caraku untuk mempertahankan?
Terkadang, ia membisikkan sesuatu pula melalui riuh suara yang membuatku terpaku di tempat; “Apa yang kau perjuangkan? Ini semua sia-sia”. Ia membuatku tak bisa bergerak diantara kerumunan orang yang menertawai tangisku; atau sengaja membicarakan masalahku.
Aku rindu, tak perlu kamu tanya lagi. Kamu sendiri mungkin sudah tau. Namun ternyata hati tak sejalan dengan pikiran. Sekali lagi, aku masih berpegang teguh pada jalan yang telah ditakdirkan kepadaku. Mungkin benar, untuk saat ini diam adalah salah satu jalan terbaik mengatasi rindu yang kurangajar tanpa permisi memecah keheningan di singgahsana hati dan membuatnya meronta karena rindu yang tak tertahankan. Rindu membuatku ingin berlari menuju pelukmu yang kata orang hangat dan nyaman itu; sesekali aku pernah mendengar begitu. Tidur sepuasnya dalam bola matamu. Menetap disana. Dan betapa aku tak ingin pergi.
“Ini hanyalah masalah waktu” begitu hatiku berkata.
Lalu, seberapa lama aku harus menunggu untuk sebuah kenyamanan yang aku rasakan bersama rasa sakitku? Dan kapan aku dapat merebahkan pelukku dalam pelukmu untuk menuntaskan rindu yang selama ini mengendap dan membuatnya sulis dipecahkan?
Adakah waktu? Aku harap.


Purwokerto, November 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tinggalkan jejak, agar aku dapat selalu mengingatmu.