Soliloquy Rindu;
dibawah derasnya hujan, aku merindu
Aku ingin
memberitahumu terkadang diamku ini berkata-kata. Ia membisikkan sesuatu lewat
alam semesta; “Jangan Menyerah”. Mendekapmu saja aku tak bisa, lantas bagaimana
caraku untuk mempertahankan?
Terkadang, ia
membisikkan sesuatu pula melalui riuh suara yang membuatku terpaku di tempat; “Apa
yang kau perjuangkan? Ini semua sia-sia”. Ia membuatku tak bisa bergerak
diantara kerumunan orang yang menertawai tangisku; atau sengaja membicarakan
masalahku.
Aku rindu, tak
perlu kamu tanya lagi. Kamu sendiri mungkin sudah tau. Namun ternyata hati tak
sejalan dengan pikiran. Sekali lagi, aku masih berpegang teguh pada jalan yang
telah ditakdirkan kepadaku. Mungkin benar, untuk saat ini diam adalah salah
satu jalan terbaik mengatasi rindu yang kurangajar tanpa permisi memecah
keheningan di singgahsana hati dan membuatnya meronta karena rindu yang tak
tertahankan. Rindu membuatku ingin berlari menuju pelukmu yang kata orang
hangat dan nyaman itu; sesekali aku pernah mendengar begitu. Tidur sepuasnya
dalam bola matamu. Menetap disana. Dan betapa aku tak ingin pergi.
“Ini hanyalah masalah waktu” begitu hatiku berkata.
Lalu, seberapa
lama aku harus menunggu untuk sebuah kenyamanan yang aku rasakan bersama rasa
sakitku? Dan kapan aku dapat merebahkan pelukku dalam pelukmu untuk menuntaskan
rindu yang selama ini mengendap dan membuatnya sulis dipecahkan?
Adakah waktu? Aku
harap.
Purwokerto,
November 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tinggalkan jejak, agar aku dapat selalu mengingatmu.