Lantas, Aku Harus Bagaimana?
Perlahan,
ranting hatiku mulai berguguran tertiup angin. Di bawah semburat senja aku
selalu membayangkanmu disini, menemaniku dengan secangkir kopi. Aku salah,
ternyata. Bukan aku yang kamu ingini untuk ada menemani kosongmu, bukan. Bukan
aku. Aku yang terlalu banyak memohon barangkali. Mungkin kamu tak tahu saat
tangan ini menengadah dan bulir air mata ini turun perlahan. Ya, kamu tidak
tahu. Eksistensiku terabaikan olehmu.
Haruskah aku
terus perjuangkanmu. Sementara aku tahu ini semua telah sia-sia. Atau masihkah
ada sekelumit harapan, untukku?
Aku
mencintaimu, tanpa orang lain tahu. Tanpa perduli bagaimana lara hatiku dengan
semua perlakuanmu.
Untukmu yang
tak pernah peduli; aku mendamba hadirmu di setiap detik yang terlewat ataupun
yang akan datang.
Lantas, aku
harus bagaimana?
Purwokerto, November 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tinggalkan jejak, agar aku dapat selalu mengingatmu.