31
Maret 2014
Surat Untuk
Mantan
Hai, senang
berjumpa lagi denganmu.
Sudah lama
juga ternyata ketika perpisahan itu harus menjadi jalan satu-satunya dan
terbaik untuk aku dan kamu. Tiga tahun yang berat tanpamu, ketika pada awal
perpisahan kita, ada aku yang sering menangisi kepergianmu. Dan mungkin sampai
saat ini aku masih belum bisa begitu saja melenyapkanmu dari pandangan serta
hatiku. Kamu masih setia bergeming disana. Diantara sujud dan tangisku. Jika
boleh aku memutar lagi kenangan lama, masih ingatkah kamu ketika kita menangis
bersama pada saat kamu akan berangkat ke kota lain untuk mewujudkan impianmu?
Tak pernah terbayang olehku harus menjalani hubungan yang terpisah jarak. Kamu bilang
“jarak hanya persoal angka, Sayang” sambil membelai rambutku. Dan betapa aku
ingin mengabadikan momen itu. Pada saat itu aku masih terus berpegang teguh
pada kata-katamu. Menghilangkan rindu yang semakin lama semakin berkecamuk, aku
telah terbiasa bersamamu. Ternyata, ada kamu yang terlebih dahulu menyerah
dengan keadaan. Tidak sanggup lagi, katamu. Masih dengan tangis yang pecah,
kamu mengakui bahwa telah ada penggantiku disana. Yang lebih mampu memberikanmu
segalanya. Yang paling dekat denganmu ketika kau meminta bantuan. Sementara aku
disini sendiri. Masih ingatkah kamu pembicaraan di telepon kita aku menangis
tersedu-sedu, menangisimu yang dengan santai meninggalkanku. Tidak ada yang
memelukku saat itu, aku hancur! Yang aku mampu lakukan saat itu hanyalah
meyakini bahwa itu semua hanya mimpi. Namun ternyata aku salah. Dan masih saja
aku mengejar bayangmu, merindukan sosokmu, membayangkan jika aku dan kamu masih
bersama. Bagaimana bisa dirimu sangat sulit aku lenyapkan, padahal kamu telah
berulang kali menyakiti aku. Sampai saat ini, kamu masih aku rindu-rindukan.
Senang
berjumpa lagi denganmu, dalam setiap rangkaian kalimatku. Senang berjumpa lagi
denganmu, ketika hujan hari ini membawaku kembali dalam memori indah tentangmu.
Senang berjumpa lagi denganmu, ketika mimpi-mimpi bersamamu masih terus hidup
dalam ingatanku.
Semoga kelak,
aku mampu berhenti menangisimu, berhenti memimpikanmu, berhenti berimajinasi
tentang aku dan kamu. Semoga kelak, aku menemukan penggantimu, yang mampu
mencintaiku sebagaimana aku mencintainya. Dan aku doakan dirimu bahagia dibawah
perlindungan-Nya.
***
Tulisan ini
diikutsertakan untuk lomba #suratuntukruth novel Bernard Batubara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tinggalkan jejak, agar aku dapat selalu mengingatmu.